Jumat, 25 Agustus 2017

Rumah Pohon Peladung

Kabupaten Karangasem, selain memiliki keindahan alam bawah laut, pantai, sawah dan pegunungan, juga menawarkan sensasi wisata rumah pohon, saat ini setidaknya sudah ada 3 buah objek wisata rumah pohon, diawali dengan rumah pohon di Karangasem yang terletak di desa Batudawa tepatnya di lereng Gunung Agung, kemudian di Temega dan sekarang yang terbaru ada di desa Peladung.

Foto keluarga Nyoman Misnawati di Rumah Pohon Peladung


Tujuan jalan-jalan kali ini bersama keluarga adalah ke Rumah Pohon Peladung, atau Rumah Pohon Bukit Lemped, keberadaa rumah pohon tersebut menandakan cukup diminati warga sebagai tujuan liburan, memang terbukti tidak hanya bagi kalangan remaja atau kawula muda tetapi juga keluarga termasuk anak-anak dan juga dewasa.

Nyoman Pasek


Objek wisata terbaru di Karangasem ini dinamakan Rumah Pohon Bukit Lemped. Bagi anda yang sudah jenuh dengan wisata alam pantai, tentunya tempat ini bisa sebagai tujuan yang ideal untuk hanya sekedar bersantai, menikmati suasana alam berbeda, termasuk juga tantangan dan juga untuk tempat wisata foto selfie.

Ni Putu Ari Indriyani di Rumah Pohon Peladung Karangasem


Sebagai objek wisata Rumah Pohon terbaru di Karangasem, tentu tempat ini akan memberikan sentuhan dan suasana yang berbeda dibandingkan pendahulunya, bahkan tetangganya Rumah Pohon Temega. Rumah Pohon Bukit Lemped di desa Peladung ini buka untuk umum sekitar semester awal tahun 2017, sebagai tempat wisata baru.

Ni Kadek Paranita Della Cahyani


Tentunya banyak warga lokal di seputaran Karangasem ingin menikmatinya dari dekat, apalagi trend sekarang ini, setiap ada objek wisata baru pasti diburu oleh warga, apalagi tempat tersebut bisa menyuguhkan sesuatu yang lebih spesial.

Ni Komang Friska Pradnyayanti di Rumah Pohon Peladung


Rumah pohon di desa Peladung, terletak di sebuah bukit kecil, menariknya di tempat tersebut tumbuh subur, pohon-pohon tropis, salah satunya adalah sebuah pohon besar yang tumbuh subur, di pohon inilah dibuat menara dari bambu sampai di atas pohon, dari atas pohon anda akan leluasa menyaksikan keindahan desa Peladung, Temega dan sekitarnya dengan leluasa, jangkauan pandang keliling 360 derajat.

Nadia Diva Sari - Friska Pradnyayanti


Tempat wisata ini walaupun baru dibuka, dengan begitu cepat viral di media sosial, sehingga semakin hari kunjungan ke rumah pohon ini terus meningkat. Untuk menjangkau menara tertinggi di Rumah Pohon Bukit Lemped Peladung anda harus menapaki tangga demi tangga yang terbuat dari besi, sehingga cukup aman. Setelah mencapai setengahnya, untuk menuju puncak barulah dibuatkan tangga-tangga dari bambu.

Rumah Pohon Peladung - Ari Indriyani


Sesampai di puncak menara, pemandangan menakjubkan bisa anda saksikan, seperti hamparan sawah, pemandangan laut serta bukit-bukit yang berada di sisi Timur, terlihat eksotis dari puncak menara tersebut, bahkan dari sini anda bisa menyaksikan Rumah Pohon Temega. Untuk keamanan dan kenyamanan hanya dibatasi 3 orang saja berada di menara tersebut.

Ni Komang Friska Pradnyayanti


Petualangan berada di puncak menara atau rumah pohon yang berada di sebuah pohon besar tersebut, merupakan ajang adu nyali yang cukup menantang, bisa memacu adrenalin anda, jika anda fobia akan ketinggian jangan coba-coba ada di ketinggian tersebut. Tempat ini disukai oleh para kawula muda, apalagi mereka yang suka tantangan dan suka foto selfie, tempat ini tentulah tempat paling ideal dan menjadi tempat paling menarik.

Ni Kadek Paranita Della Cahyani - Putu Ari Indriyani


Anak kecil tidak direkomendasikan naik ke pohon ini, tetapi tentunya masih ada tempat seru untuk tempat bermain bagi anak-anak.

Daya tarik Rumah Pohon Bukit Lemped Peladung  bagi anak-anak disediakan sejumlah ayunan untuk bisa dinikmati sambil bersantai, juga sejumlah ayunan khusus untuk tempat foto selfie, bagi orang tua, bisa bersantai sambil menikmati suasana sekitarnya di tempat-tempat yang disediakan, sambil menikmati alunan musik rindik yang dimainkan oleh penabuh atau mendengarkan musik dengan sentuhan alam.

NI Putu Ari Indriyani di Rumah Pohon Peladung


Tempat ini selain untuk bersantai, bermain juga dirancang untuk foto-foto selfie, sejumlah spot menarik untuk foto selfie selain menara tinggi adalah sarang burung besar, ayunan bundar dan sejumlah lainnya.

Di tempat ini juga disediakan warung makanan dan minuman dan juga toilet, parkir kendaraan cukup memadai. Tempat ini terus menambah sejumlah spot yang bisa digunakan untuk bersantai dan foto selfie.

Pengelola memang menyadari betul, trends sekarang ini, dimana orang-orang butuh suasana berbeda, terutama lagi para kawula muda yang cenderung ingin menemukan tempat-tempat dengan nuansa baru dan unik, selain bisa sebagai tempat wisata juga bisa foto selfie untuk bisa selalu eksis di media sosial.

Rumah Pohon Peladung - Putu Ari Indriyani


Objek wisata Rumah Pohon Bukit Lemped lokasinya di desa Peladung, Kecamatan Karangasem, Kab. Karangasem – Bali. Tempat ini berada di jalan raya Kabupaten Karangasem – Buleleng, sehingga untuk mmenuju ke lokasi sangat mudah. Jarak dari pusat kota Denpasar sekitar 68 km, sedangkan dari kota Amlapura sekitar 5.5 km. Bahkan lokasi Rumah Pohon di Peladung, berjarak sekitar 150 meter dari Rumah Pohon Temega.

Akses menuju tempat ini sangat mudah, karena berda di pinggir jalan raya utama. Jika perjalanan dari arah Denpasar menuju objek wisata Amed ataupun Tulamben di wilayah Bali Timur, anda akan melewati tempat ini, lokasinya hanya sekitar 1.6 km sebelum objek wisata Tirta Gangga.

Jadi jika anda berkunjung ke sini anda bisa mengemas acara tour anda dengan mudah, sejumlah objek wisata terdekat dengan Rumah Pohon Peladung ini adalah Tirta Gangga, Rumah Pohon Temega, Taman Ujung dan Rumah Coklat di Jasri. (20 Agustus 2017)


Rumah Pohon Temega

Setelah sukses dengan Rumah Pohon Batudawa yang terletek di lereng Gunung Agung Karangasem, kini pihak penglola ataupun owner buka lagi Rumah Pohon di desa Temega. Ini menandakan keberadaan Rumah Pohon tersebut bisa diterima masyarakat dan juga wisatawan, yang bisa memberikan sensasi lain selain objek wisata pantai. Lokasi Rumah Pohon di desa Temega ini bahakan lebih mudah dijangkau dibandingan yang berada di Lereng Gunung Agung, serta sanggup memberikan sensasi berbeda.

Nyoman Pasek di Rumah Pohon Temega


Perjalanan kali ini hanya bersama istri dan sibungsu, karena kebetulan sedang perjalanan pulang kampung dan kakak-kakanya sekolah. Terpaksa deh perjalanan kali ini hanya bersama team kecil saja.

Rumah Pohon Temega merupakan salah satu objek wisata baru di Karangasem Bali, sebuah tempat atraktif dan kreatif untuk bersantai menikmati keindahan alam pedesaan, pohon-pohon rindang dan menjulang tinggi, serta hamparan persawahan, sehingga membuat anda betah untuk berlama-lama.

Jika anak-anak desa pada jaman dulu, suka bermain rumah-rumahan di bawah atau atas pohon, maka kenangan tersebut akan muncul lagi setelah anda merasakan sensasi wisata ke Rumah Pohon Temega Karangasem ini. Tempat ini sangat disukai oleh para kawula muda, anak-anak dan juga dewasa.

Ni Nyoman Misnawati di Rumah Pohon Temega


Anda yang bingung untuk menemukan objek wisata baru atau kekinian di Bali, saatnya anda meluncur ke Rumah Pohon Temega di Karangasem ini. Kalau perjalanan dari arah Denpasar jarak tempuhnya sekitar 70 km, atau sekitar 6 km setelah kota Amlapura menuju jurusan Buleleng, dan sekitar 3 km sebelum objek wisata Tirta Gangga, berada di pinggir jalan raya utama, sebelah kiri, di sini anda akan menemukan areal parkir untuk mobil, yang berada di pinggir jalan dan ada papan nama Rumah Pohon Temega, kemudian berjalan kaki sekitar 50 meter, maka sampailah di tempat tujuan, jika bawa sepeda motor anda bisa langsung di lokasi dekat tiket masuk.

Memasuki areal Rumah Pohon Temega, anda ditawarkan 2 akses menuju kawasan rumah pohon, bisa melalui jembatan gantung atau lewat jalan setapak, jika anda memiliki jiwa petualang tentu melewati jembatan gantung ini akan memberikan sensasi tersendiri, jembatan tersebut ditopang oleh tali sling yang kuat, sehingga jika anda berjalan, pijakan terasa goyang dan tidak stabil.

Ni Nyoman Misnawati - Reny


Jika takut ketinggian dan membawa anak apalagi dengan bayi disarankan memilih jalan setapak saja. Apalagi dinding jembatan gantung tersebut hanya dibatasi oleh rangkaian tali yang cukup longgar sehingga bagi anak kecil dibawah 3 tahun tidak disarankan lewat jembatan tersebut. Kebetulan saat tersebut aku ajak sibungsu yang baru berumur 2.5 tahun, jadi gemetaran, kau mau coba lagi deh jembatan tersebut benar-benar uji nyali bersama si bungsu.

Seperti rekreasi rumah pohon lainnya, maka tentunya identik dengan rumah yang dibuat di atas pohon, bahan-bahan yang digunakan berasal dari alam seperti bambu dan kayu yang diikat dan dikaitkan menjadi satu, mengkombinasikannya dengan pohon-pohon yang tumbuh disekitarnya.

Sebagai tempat rekreasi, rumah tersebut bukan digunakan untuk tempat tinggal, tetapi untuk bersantai menikmati sensasi alam sekitarnya dari atas ketinggian, rumah pohon di desa Temega ini di desain berbeda dengan yang berlokasi di desa Batudawa dekat Tulamben, walaupun pemilik dari kedua tempat rekreasi ini sama, ini dikarenakan suasana lingkungan dan pohon-pohon yang tumbuh juga berbeda.

Ni Nyoman Misnawati - Nadia Diva Sari


Rumah pohon Temega menawarkan beberapa rumah dalam pohon, akses menuju rumah pohon tersebut bisa melalui jembatan gantung pertama, kemudian jembatan gantung ke dua dengan kemiringan sekitar 45°akses ini tentu bagi mereka yang ingin merasakan tantangan lebih, ada juga melalui jembatan kayu yang lebih mudah, di rumah tersebut terdapat kafetaria menjual makanan dan minuman serta ciri khas makanan lokal tipat cantok.

Beberapa rumah lainnya bisa sebagai tempat bersantai menikmati alam sekitarnya. Yang paling menarik adalah rumah pohon yang dibuat bertingkat sampai pada puncak tingkat 5, kebayang sensasinya, tingginya setara dengan pohon kelapa dewasa dan ada sebuah jembatan kayu yang menghubungkan ke pohon kelapa tersebut.

Dari atas rumah pohon paling atas ini anda bisa menyaksikan keindahan keliling, menikmati suasana desa dan hamparan sawah. Pohon-pohon tropis tumbuh dengan subur di kawasan ini, apalagi memang sumber air di kawasan ini sangat melimpah salah satunya bersumber dari mata air alam Tirta Gangga, beberapa ekor monyet juga terlihat beraksi lucu di atas tali, begitu juga hewan berang-berang jinak sengaja dilepaskan areal ini untuk menambah kesan alami.

Objek wisata ini di apit oleh dua sungai, sehingga terasa sangat asri dan alami, menawarkan tempat wisata baru yang layak kunjungi. Anda yang jenuh dengan suasana alam kota yang penuh hiruk pikuk, maka objek wisata baru di desa Temega Karangasem ini bisa menjadi tempat ideal untuk menemukan dan mencari ketenangan, sehingga pikiran anda bisa fresh kembali.

Selain untuk menikmati ketenangan, tentunya Rumah Pohon Temega ini menjadi buruan bagi kawula muda untuk tetap eksis di media sosial, sehingga secara tidak langsung akan mempromosikan tempat rekreasi ini, sehingga walaupun baru dibuka dalam hitungan bulan sekitar bulan Nopember 2016, tempat ini selalu ramai dikunjungi oleh wisatawan terutama oleh warga lokal.

Berkunjung kesini mungkin ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, jangan buang sampah sembarangan, dilarang untuk merokok, dan larangan yang cukup unik adalah bagi pasangan laki perempuan, bahkan yang sudah menikah sekalipun dilarang bersentuhan tubuh dengan pasangan.

Saat admin berkunjung pada pertengahan Januari 2017, Rumah Pohon Temega ini baru buka sekitar 2 bulan, menurut pemilik tempat ini belum kelar 100%, bahkan baru selesai sekitar 20%, dan selanjutnya fasilitas akan terus ditambah, seperti jembatan-jembatan yang menghubungkan setiap pohon dan tentunya ke depan selalu saja ada suguhan baru di objek wisata Bali Timur ini.

Harga tiket masuk yang tergolong murah untuk tempat wisata baru , atraktif dan inovatif ini, buka setiap hari antara pukul 07.00 – 18.00, jika ingin suasananya lebih tenang dan sepi berkunjunglah saat hari biasa, tidak saat hari libur atau akhir pekan. Jarak dari Denpasar sekitar 2 jam berkendara, berkunjung ke sini bisa dengan kendaraan pribadi, bagi wisatawan bisa sewa mobil di Bali atau ikut tour untuk kawasan Bali Timur yang sudah dipersiapkan oleh agen perjalanan anda, karena di kawasan Kabupaten Karangasem banyak tempat rekreasi menarik seperti Taman Ujung, Tirta Gangga, Amed, Tenganan dan Candidasa. (21 Januari 2017)


Rumah Pohon Batudawa Karangasem

Suasana alam pegunungan yang indah dan menawan, terlihat sempurna dari Rumah Pohon di Batudawa Karangasem yang terletak di lereng Gunung Agung. Jalan-jalan bersama keluarga kali ini, sekaligus bersama kakak dan ponakan terasa sangat istimewa. Lokasinya yang berada di wilayah Karangasem dan sudah beberapa tahun silam, baru sempat menyambangainya. Sensasi yang ditawarkan terlalu sayang untuk dilewatkan begitu saja, apalagi lokasinya sangat dekat dengan kampung halaman.

Komang Friska Pradnyayanti di Rumah Phon Karangasem


Orang mulai mengenal objek wisata Rumah Pohon di Karangasem pada awal 2015, pada hal keberadaan Rumah Pohon ini sudah lama dan menjadi tempat pesanggrahan pribadi bernama Loka Sanggraha, yang diperuntukkan untuk mendapatkan keheningan, kedamaian di tengah alam pegunungan dan hamparan pemandangan indah.

Ni Nyoman Misnawati - Reny


Sebenarnya pemilik enggan untuk membuka kawasan ini untuk umum, tapi karena terlalu banyaknya pengunjung terutama saat liburan dan akhir pekan, karena banyaknya antusias masyarakat untuk menikmati keindahan dari rumah pohon tersebut, maka oleh pemiliknya terpaksa dibuka juga dibuka untuk umum.

Ni Nyoman Misnawati - Nadia Diva Sari


Berawal dari sebuah kunjungan sejumlah orang yang ingin menikmati nuansa yang bukan mainstream, dan kemudian mengunggah pengalaman wisata mereka ke Rumah Pohon Karangasem di media sosial seperti di instagram  dan facebook, dengan panorama berbeda, cukup unik dan spesial tentu mengundang perhatian bagi banyak orang. Sehingga tempat ini menjadi terkenal, bagi kalangan remaja dan kaum muda. Dan sekarang menjadi tujuan jalan-jalan di Bali yang cukup populer bagi kalangan warga lokal.

Ni Kadek Paranita Della Cahyani di Rumah Pohon


Lokasi dari objek wisata Rumah Pohon Karangasem ini, berada di kaki Gunung Agung desa Batu Dawa, yang merupakan gunung tertinggi di pulau Bali, bisa anda bayangkan bagaimana anda berada di sebuah dataran tinggi dengan pemandangan indah gunung tersebut di depan mata dan di lain hal di sekitarnya pemandangan bukit dan lembah tersaji asri dan alami, serta di kejauhan terhampar pemandangan laut pantai Amed dan Tulamben.

Ni Kadek Paranita Della Cahyani - Putu Ari Indriyani


Menikmati indahnya alam pegunungan dengan berbagai perpaduan pemandangan alam tentu akan memberikan pengalaman berbeda dalam menikmati liburan anda bersama pasangan terkasih. Objek wisata Rumah Pohon Karangasem sanggup memberikan suguhan spesial bagi anda. Berencana mengeksplorasi kawasan Bali Timur terutama wilayah Kabupaten Karangasem atur acara tour di Bali anda karena selain ada Rumah Pohon ada juga objek wisata Tulamben, Amed, Tirtagangga, Taman Ujung Soekasada dan juga pantai Candidasa.

Ni Putu Ari Indriyani


Objek wisata Rumah Pohon di Batu Dawa Karangasem ini, lokasinya jauh dari keramaian, karena berada di atas bukit kaki Gunung Agung, dengan ketenangan dan kedamaian yang disajikan, diharapkan bagi pengunjungnya bisa merasakan ketenangan pikiran dan tubuh dapat refresh dengan atmosfer yang benar-benar segar dan jaug dari polusi. Jika anda mau berkunjung ke objek wisata di Bali ini dan ingin merasakan ketenangan dan kenyamanan lebih, berkunjunglah pada hari-hari biasa hindari saat liburan ataupun akhir pekan, sehingga anda bisa lebih leluasa menikmati suasana alam sekitarnya.

Ni Kadek Paranita Della Cahyani


Tempat ini hanya memiliki dua buah rumah pohon, yang luasnya sekitar 9 meter persegi yang bisa menampung maksimal 4-6 orang, bahkan yang satunya lebih kecil lagi, jika banyak pengunjung anda perlu antre agar bisa berada di atas pohon dan menikmati alam sekitarnya dengan lebih leluasa, untuk itu disarankan berkunjung pada hari-hari biasa saja. Untuk menaiki rumah pohon tersebut anda harus melewati jembatan gantung, terasa unik dan menarik.

Pemandangan Rumah Pohon Batudawa


Bukan hanya Rumah Pohon saja yang ditawarkan di sini, sebuah piramida kecil menyerupai stupa candi terdapat di tengah-tengah objek wisata ini, dibentuk dari bulatan-bulatan tanah liat yang dicampur dengan semen, terlihat begitu unik. Bulatan tanah liat tersebut menjadi ciri khas material yang digunakan untuk membangun sejumlah sarana penunjangnya baik itu tembok keliling, piramida dan jalan setapak di dalam lokasi tempat wisata.

Foto keluarga bersama Nyoman Misnawati


Berbagai aktivitas bisa anda lakukan di objek wisata Rumah Pohon Karangasem, seperti bersantai di atas pohon mengagumi keindahan alam pegunungan dan sekelilingnya dan juga foto selfie dengan pemandangan indah Gunung Agung atupun pemandangan lembah, bukit dan pantai. Perlu diingat tempat ini, kawasan sangat dijaga keindahan, kealamian dan bahkan kesuciannya untuk itu bagi pengunjung sangat diharapkan untuk selalu menjaga kebersihan serta etika sopan santun berkunjung, karena sangat ditekankan pasangan termasuk yang sudah berkeluarga tidak diperbolehkan saling bersentuhan.

Rumah Pohon Batudawa Karangasem


Sekarang sudah ada lagi tempat rekreasi baru yaitu Rumah Pohon Temega (masih satu owner) juga terletak di Kabupaten Karangasem, nuansanya berbeda lebih atraktif, menyenangkan dan mudah dijangkau, jika dari arah Denpasar, lokasinya sekitar 3 km sebelum objek wisata Tirta Gangga.


Wihara Brahmavihara Arama

Selain Pura yang juga menjadi tujuan wisata di Bali, keberadaan wihara yang terletak di Kecamatan Banjar Buleleng ini juga menjadi salah satu tujuan wisata populer di Bali Utara. Kami sekeluarga termasuk juga keluarga lainnya, menyiapkan waktu terbaik melakukan perjalanan menikmati keindahan wihara tersebut, selain nantinya juga berencana melanjutkan perjalanan ke pantai Lovima dan Krisna Funtastic Land yang menjadi ajang bermain anak-anak.

Foto Keluarga Nyoman Misnawati


Sudah lama sebenarnya niat untuk mengunjungi wihara Budha yang terletak Bali Utara tersebut. tapi karena terkendala waktu dan liburan anak-anak, terpaksa dipending cukup lama, tetapi akhirnya hari tersebut terwujud, terlebih ada keluarga lain yang ikut untuk perjalanan kali ini, jadi terasa akan lebih seru. Wihara tersebut bernama Brahmavihara – Arama. Wihara ini dibangun pada tahun 1969, selesai dibangun pada tahun 1970, kemudian pada 3 tahun berikutnya diresmikan sebagai vihara Budha. Sekarang ini menjadi wihara Buddha terbesar di Bali.

Foto family Ni Nyoman Misnawati


Brahmavihara – Arama, dibangun oleh Bante Girri Rakhito Mahatera, lokasinya di desa Banjar Tegeha, Kec. Banjar, Kabupaten Buleleng, sehingga dikenal juga dengan nama Wihara Buddha Banjar. Bagi para wisatawan, tempat ini ternyata cukup menarik, tidak hanya sebagai tempat ibadah umat tetapi menjadi salah satu objek wisata di kawasan kabupaten Buleleng.

Apalagi tempatnya hanya berjarak 11 km dari objek wisata Lovina yang merupakan tempat rekreasi menonton atraksi lumba-lumba di alam bebas, dan juga berdekatan dengan objek wisata pemandian air panas Banjar, sehingga jika anda yang mengagendakan acara tour ke wilayah Bali Utara, maka sangat sayang jika tidak berkunjung ke wihara terbesar di Bali ini.

Nyoman Pasek


Lokasi dari wihara ini pada sebuah dataran tinggi perbukitan, letaknya nyaman, sepi dan tenang serta pemandangan disekitarnya indah, dari kejauhan anda bisa menyaksikan pemandangan alam laut pantai Lovina. Tidak mengherankan tempat ini dipilih sebagai tempat suci untuk mendapatkan ketenangan, dan ideal untuk kegiatan meditasi.

Arsitektur bangunan wihara juga tidak meninggalkan ciri arsitektur Bali, di kawasan ini juga dibangun candi Borubudur mini, sehingga tampil lebih cantik dan menarik, membuat para wisatawan menjadi penasaran dan ingin kenal lebih dekat, apalagi bagi mereka yang suka wisata rohani terutama untuk meditasi dan menemukan ketenangan maka Brahmavihara – Arama, bisa menjadi tujuan wisata selanjutnya.

Nyoman Misnawati di Brahmavihara Arama


Setelah mengalami perluasan, Brahmavihara – Arama sekarang luasnya sekitar 4 hektar dikelola oleh Yayasan Girirakkhito Mahathera. Seperti yang tersemat dengan nama wihara ini terdiri dari 3 kata yaitu; Brahma, Vihara dan Arama, kata Brahma berarti mulia, luhur, terpuji dan agung, kata vihara berarti cara hidup sedangkan arama berarti tempat. Jadi arti dari Brahmavihara – Arama adalah sebuah tempat untuk melatih diri dan menempa perilaku mulia dan luhur.  Wihara ini menjadi salah satu pusat meditasi di Indonesia.

Nyoman Misnawati di Wihara Budha Banjar


Secara garis besar Brahmavihara – Arama dibagi menjadi 5 komplek, yang pertama adalah Uposatha Gara berada pada komplek sebelah Barat, yang merupakan bagian yang tenang dan nyaman, terdapat panel pahatan kelahiran sang Buddha sampai mencapai nirwana, tempat ini berfungsi sebagai penasbihan calon biku. Kedua bagian sisi Timur terdapat ruang belajar yang dinamakan Dharmasala, tempat para bikhu melakukan kebaktian dan aktivitas spiritual.

NI Putu Ari Indriyani dan Pendeta Budha


Komplek ketiga ada Stupa, lokasinya di Barat Laut, sebuah lonceng besar berdiri di sini di dalam stupa terdapat benda-benda yang konon milik sang Buddha. Pada arah sudut Barat Daya terdapat Pohon Bodi yang merupakan simbol kemenangan sang Buddha, di tempat inilah pengunjung bisa melakukan meditasi. Dan komplek bangunan terakhir adalah Kuti, sebagai tempat tinggal, latihan para biku dalam menuntut ilmu.

Brahmavihara – Arama tertata dengan baik dikelilingi oleh taman-taman indah serta sejumlah patung Buddha tersebar di setiap sudut halaman, suasananya begitu tenang, indah dan nyaman, apalagi keberadaan candi Borobudur mini di areal ini menjadikannya tampil lebih menawan, sehingga bisa menjadi tujuan alternatif bagi wisatawan yang membutuhkan nuansa alam damai, apalagi yang ingin melakukan meditasi maka Brahmavihara – Arama akan menjadi tempat ideal.

Ni Putu Ari Indriyani dan Dewa Ayu Arik


Setiap hari selalu ada pengunjung yang ingin mengenal objek wisata di Bali Utara ini lebih dekat dan ada yang melakukan meditasi. Kunjungan puncaknya tentu pada saat hari raya Waisak yang merupakan hari suci umat Budha. Secara umum Brahmavihara – Arama di Kabupaten Buleleng Bali ini memiliki fungsi sebagai berikut; sebagai tempat sembahyang bagi umat Buddha, tempat tinggal para bikhu, tempat meditasi, menggali dan mengembangkan spiritualitas dan sarana sosial kemasyarakatan. (1 Januari 2017)




Danau Tamblingan

Jalan-jalan hari bersama keluarga, berakhir di danau Tamblingan setelah sebelumnya mengunjungi danau Beratan dan tempat selfie puncak Wanagiri. Perjalanan seharian penuh ini berjalan lancar, didukung dengan cuaca yang bersahabat dan cerah.

Danau Tamblingan


Dengan suasana alam yang indah dan tenang, maka menikmati alam danau Tamblingan ini bisa memberikan sentuhan lain bagi yang mengunjunginya, apalagi setelah sibuk dengan rutinitas. Refresh sejenak bersama keluarga tentu akan menjadikan kenangan indah bersama keluarga.

Kita ketahui ada empat danau di Bali yang bisa menjadi tujuan wisata, semuanya menyuguhkan tawaran berbeda baik itu alamnya, suasananya serta kegiatan yang bisa dilakukan di objek wisata tersebut. Empat danau di Bali tersebut adalah danau Beratan Bedugul, Batur, Buyan dan Tamblingan.

Ni Nyoman Misnawati - di Tamblingan


Diantara keempatnya maka danau Tamblingan adalah yang terkecil dan Batur terbesar. Sedangkan yang terpopuler sebagai tujuan wisata tour di Bali adalah danau Beratan Bedugul dan Batur, kedua objek wisata di Bali tersebut selalu ramai dikunjungi wisatawan, apalagi Bedugul yang menjadi tujuan wisata wajib.

Ni Nyoman Misnawati - Reny


Danau Tamblingan Bali, menyuguhkan wisata alam yang memang bukan untuk komersil ataupun didesain modern seperti danau Beratan, Tamblingan lebih dirancang untuk wisata spiritual dan alam dengan suguhan alam asri beserta hutan-hutan lebat disekitarnya, suasananya tenang, nyaman dan jauh dari keramaian, sehingga penikmatnya bisa lebih bersantai dan leluasa menikmati alam hijau di sekitarnya.

Ni Nyoman Misnawati - selfie Tamblingan


Tamblingan terletak di lereng Utara Gunung Lesong, berada di desa Munduk, Kec. Banjar, Kab. Buleleng. Dalam peta wisata masuk dalam kawasan wisata Bali Utara. Berada di dataran tinggi membuatnya terasa sejuk.

Kabupaten Buleleng yang menjadi wilayah wisata Bali Utara memang memiliki banyak tempat wisata menarik, mulai dari wilayah pesisir sampai dataran tinggi pegunungan, beberapa diantaranya adalah pantai Lovina, sejumlah air terjun seperti air terjun Gitgit dan Sekumpul, serta danau Tamblingan. Keragaman akan tempat indah yang disuguhkan menjadikan wilayah Bali Utara ini cukup diminati oleh wisatawan.

Ni Nyoman Misnawati - Ari Indriyani


Danau Tamblingan terletak berdampingan dengan danau Buyan, dipisahkan oleh hutan belantara sekitar 1 km, bahkan keduanya dihubungkan oleh kanal kecil. Keduanya dikenal juga dengan danau kembar di Bali (twin lake).

Lokasinya bahkan juga berdekatan dengan danau Beratan Bedugul, butuh sekitar 20 menit berkendaraan, seperti halnya Buyan dan Beratan, Tamblingan juga terbentuk dari sebuah kaldera besar, berada pada ketinggian 1.000 mdpl sehingga cenderung berhawa dingin, bahkan pada pagi harinya kerap berkabut. Sumber airnya berasal dari air hujan dan rembesan air hutan disekelilingnya.

Ni Putu Ari Indriyani di Tamblingan


Jika anda berkunjung ke objek wisata danau Tamblingan di Buleleng Bali ini, maka anda bisa merasakan indahnya alam danau yang dikelilingi oleh hutan lebat, suasana alamnya segar dan masih alami.

Tidak hanya itu anda bisa berkeliling danau dengan menyewa perahu kecil yang dinamakan pedahu. Bentuk pedahu adalah sebuah sampan yang juga digunakan menangkap ikan oleh nelayan setempat, namun tidak bermotor, sehingga tidak mencemari lingkungan dan alam sekitarnya.

Ni Kadek Paranita Della Cahyani


Suasana alamnya memang masih perawan dan alami. Apalagi jika anda berkunjung saat pagi hari, saat sinar mentari menembus kabut tipis akan terasa lebih spesial dan mengesankan.

Ada sebuah sejarah yang menceritakan adanya keberadaan danau Tamblingan dan desa yang berada di sekitarnya. Disekitar danau Tamblingan ada 4 buh desa yang mengelilingi danau tersebut atau dikenal dengan catur desa, yaitu desa Munduk, Gobleg, Gesing dan Umajero. Namun pada suatu ketika keempat desa tersebut terjadi wabah penyakit.

Ni Putu Ari Indriyani


Kemudian salah satu orang yang dianggap suci dan sakti mengambil air suci dari danau tersebut dan ajaibnya penyakit yang mewabah tersebut hilang dan warga bisa sembuh sedia kala, untuk itulah sampai sekarang warga wajib menjaga kesucian air danau tersebut. Sehingga pada akhirnya danau tersebut dinamakan Tamblingan yang berasal dari bahasa Bali “Tamba” yang artinya obat dan “Elingan” berarti mengingatkan akan kekuatan spiritual.

Ni Kadek Paranita Della Cahyani di Tamblingan


Memang sangat terasa kesakralan kawasan ini ini terbukti ada sekitar 11 pura di kawasan ini, bahkan dua buah diantaranya yaitu Pura Tukang Timbang dan Pura Embang merupakan peninggalan kuno sudah dibangun sebelum abad ke 10, selain kedua tersebut pura lainnya disekitar danau pura Dalem Tamblingan, Pura Gubug, Pura Endek, Pura Naga Loka, Pura Batulepang, Pura Tirta Mengening, Pura Pengukiran, Pura Sang Hyang Kawuh, Pura Ulun Danu dan Sang Hyang Kangin.

NI Nyoman Misnawati - Reny


Sehingga sangat tepat dan ideal sekali kawasan ini dikembangkan oleh pemerintah daerah setempat sebagai tempat wisata spiritial. Bahkan pada tanggal 22-25 Juni 2016 di danau Kembar tersebut digelar perhelatan Twin Lake Festival, dan khusus Tamblingan digelar kegiatan pelestarian lingkungan dan spiritual, seperti kegiatan menanam pohon, pementasan seni, trekking dan yoga masal.(16 April 2017)


Danau Buyan

Perjalanan menyenangkan bersama keluarga, sangat kami rasakan ketika jalan-jalan menuju arah Bedugul, perjalanan dari Denpasar ini kami mulai sekitar pukul 08.00 wita, tujuannya adalah Danau Buyan, yang letaknya berdekatan dengan danau Beratan Bedugul. Jalanan berliku menuju Bedugul disuguhi pemandangan indah alam pegunungan, kami terutama anak-anak sangat menikmati perjalanan ini. Walaupun kami dari kampung kecil, tetapi mereka lebih mengenal suasana kota yang selalu ramai dengan hiruk pikuk manusia, kini dapat refresh sejenak menikmati alam pegunungan yang segar dan sejuk.

Family Ni Nyoman Misnawati


Jika dirinci keberadaan danau di pulau Dewata, terdapat empat buah danau di Bali diantaranya Danau Beratan, Batur, Buyan dan Tamblingan. Masing-masing menyuguhkan keindahan berbeda dan siap memberikan suasana baru, dan berada di wilayah ketinggian sehingga cenderung berhawa sejuk dan dingin. Wisata danau juga menjadi alternatif bagi mereka yang mencarai suasana lain selain pantai.

Ni Kadek Paranita Della Cahyani - Indriyani - Ni Nyoman Misnawati


Danau Buyan dan Tamblingan dikenal juga dengan danau kembar, karena letaknya berdampingan. Belum begitu banyak wisatawan mengagendakan tour di Bali dengan tujuan ke tempat tersebut, berbeda dengan Beratan menjadi salah satu tujuan wisata populer di Bali, yang setiap harinya selalu ramai pengunjung.

Buyan memberikan nuansa alam berbeda, lebih sepi dan tenang, sehingga jika anda ingin jauh dari hiruk pikuk kota, merasakan udara segar pegunungan dan menyaksikan perpaduan alam danau dan hutan lebat maka Buyan akan menjadi tempat paling ideal.
Objek wisata alam Danau Buyan Bali.

Ni Putu Ari Indriyani


Sebagai objek wisata alam, kawasan danau Buyan Bali lebih populer dikalangan warga lokal dibandingkan wisatawan, lokasinya di desa Pancasari, Kec. Sukasada, Kab. Buleleng, termasuk dalam peta wisata Bali Utara. Dari empat danau di Bali, maka Buyan adalah danau terbesar ketiga.

Pada kawasan ini ada 3 buah danau berdekatan dan Danau Buyan berada ditengah-tengahnya diapit oleh Tamblingan dan Beratan. Itulah sebabnya jika anda mengagendakan tour ke wilayah Bali Utara dengan rute ke arah objek wisata Bedugul, maka anda akan lebih mudah mengunjungi ke-tiga danau tersebut dalam sekali perjalanan.

Ni Kadek Paranita Della Cahyani


Jarak danau Buyan dari bandara Ngurah Rai Bali sekitar 73 km dan butuh waktu tempuh sekitar 2 jam perjalanan, barada pada ketinggian 1.350 dari permukaan laut, sehingga membuatnya berhawa dingin, jika anda berencana melakukan kegiatan kemah di kawasan ini maka sediakanlah sesuatunya dengan baik, karena pada malam harinya dingin akan lebih terasa menyengat.

Jarak danau Buyan dari Beratan sekitar 15 menit berkendara, sedangkan dari Tamblingan cukup dekat sekitar 1 km hanya dipisahkan oleh hutan, bahkan terdapat sebuah kolam yang dinamakan Telaga Aya dan terhubung langsung melalui sebuah kanal sempit ke kedua danau tersebut, lokasinya yang berdekatan ini lebih dikenal sebagai danau kembar.

Ni Komang Friska Pradnyayanti - Nadia Diva Sari


Danau Buyan Bali, dikelilingi oleh hutan-hutan tropis, memiliki tempat lapang yang sering difungsikan untuk kegiatan outing, seperti acara perkemahan. Wisata alam yang disuguhkan difungsikan warga untuk kegiatan-kegiatan wisata petualangan. Seperti trekking mengelilingi hutan tropis di sekitarnya atau yang lebih panjang mulai dari Tamblingan dan finish di danau Buyan.

Dalam perjalanan treking tersebut anda akan merasakan suasana alam pegunungan yang sejuk dengan pohon-pohon tropis rindang, jauh dari polusi dan hiruk pikuk kota, serta melihat keindahan alam sekitarnya dari dataran tinggi, akan menjadi pengalaman berharga saat menikmati wisata petualangan di Bali. Selain itu aktivitas memancing di danau Buyan menjadi salah satu kegiatan cukup menarik, anda bisa pancing dan beli umpan di tempat ini.

Ni Nyoman Misnawati - Ari Indriyani - Paranita Della Cahyani


Danau Buyan memang cocok untuk wisata keluarga, terutama bagi anak-anak, yang bisa memberikan pengalaman berbeda dan lebih mengenal alam. Alamnya sangat memungkinkan untuk acara outing perusahaan ataupun untuk family gathering sebuah perusahaan. Berbagai kegiatan fun games bisa anda kemas dengan baik di danau Buyan ini. Bagi para pecinta alam, sering berpetualang, maka alam danau Buyan layak untuk dicoba, tempat kemping atau mendirikan kemah tersedia dan berlokasi di tepi danau, selain itu anda bisa menikmati alamnya sambil memancing. Melakukan kegiatan kemah di Bali maka Danau Buyan akan memberikan tawaran yang lebih spesial.

Pada pinggir danau lebih didominasi oleh hutan dan beberapa bagiannya dimanfaatkan warga setempat unutuk menanam sayur mayur, termasuk tanaman strawberry yang bisa anda petik sebagai tanda oleh-oleh dari danau Buyan. Kawasan Bumi Perkemahan Danau Buyan memang cukup diminati oleh warga untuk merasakan suasana malam, apalagi saat langit cerah dan bulan purnama, cahaya temaramnya membuat suasana lebih indah dan romantik. Warung makanan dan minuman di kawasan ini juga menyediakan sewa pancing, sewa tenda, kamar mandi, kayu bakar, minyak gas bahkan charger handphone bisa anda sewa, sehingga tidak perlu khawatir tidak terkoneksi dengan dunia luar.

Ni Nyoman Misnawati - Ari Indriyani


Danau Buyan memang bukan diperuntukkan untuk objek wisata komersil seperti tetangganya danau Beratan Bedugul, tempat ini lebih mengacu pada wisata alam yang tetap menjaga kealamiannya, sehingga pengunjung bisa menikmati alam yang masih asri, alami dan perawan. Kawasan Taman Wisata Alam ini memang lebih didominasi hutan yang dilindungi mencapai 15.000 hektar dan sebagian besar adalah hutan belantara. Mau wisata bersama keluarga, cobalah bertandang ke danau Buyan.(16 April 2017)

Puncak Wanagiri

16 April 2017 - Puncak Wanagiri sekarang ini menjadi tempat hits dan populer bagi mereka yang ingin menemukan tempat baru untuk foto selfie dengan pemandangan alam indah dan menakjubkan. Pada suatu pagi yang cerah, kami sekeluarga sepakat untuk melakukan perjalanan dari arah Denpasar dengan tujuan Danau Buyan terlebih dahulu, baru kemudian melanjutkan perjalanan menuju ke Puncak Wanagiri, yang ternyata menawakan sejumlah tempat untuk mereka yang ingin foto selfie.

Ni Nyoman Misnawati - Nadia


Salah satu tempat yang terasa istimewa adalah sebuah anjungan yang terbuat dari rangkaian batang bambu terdapat juga sebuah ayunan, lokasi  tempat wisata selfie ini di Banjar Yeh Ketipat, puncak bukit desa Pakraman Wanagiri, Kecamatan Sukasada, Kab. Buleleng, Bali. Pembuatan anjungan dengan latar belakang keindahan danau Buyan ini pertama kalinya adalah ide para pedagang di seberang jalan membuat tempat bersantai sambil menikmati makanan ditemani keindahan pemandangan danau, bukit dan lembah yang cantik, tujuannya hampir sama dengan restoran tepi kaldera di di desa Penelokan, keindahan kedua tempat inipun bisa disejajarkan.

Ni Nyoman Misnawati - Indri - Dela - Friska- Nadia


Namun antusias pengunjung sangat tinggi, setiap orang yang lewat selain menyempatkan untuk tempat makan, juga mencari tempat bersantai yang ideal, apalagi bisa sekaligus foto selfie dengan tempat yang didesain unik, sehingga menjadi tempat wisata baru yang sering dikunjungi. Tempat foto selfie di kawasan puncak Wanagiri ini, tidak hanya anjungannya saja yang menarik, di atasnya ada sebuah pohon besar, sehingga menjadi tempat yang kokoh mengikatkan rantai besi untuk sebuah ayunan, ayunan ini menjadi tempat spesial bagi anda yang ingin mendapat foto yang spektakuler dengan latar belakang keindahan danau Buyan.

Photo Keluarga Nyoman Misnawati


Jika anda fobia dengan ketinggian, tidak perlu mencoba ayunan ini, walaupun aman, posisinya terasa cukup tinggi berada di atas jurang curam, untuk naik ke tempat ayunan sudah dipersiapkan tempat khusus dengan bantuan pemandu setempat. Ayunan tersebut diperlukan hanya untuk foto selfie saja bukan untuk berayun-ayun karena akan cukup berbahaya. Anda bisa photo sendiri ataupun dengan pasangan terkasih, petugas setempat selalu stand by siap membantu mengambil gambar dari tempat yang sudah ditentukan, sehingga bisa menghasilkan foto-foto yang spektakuler.

Ni Putu Ari Indriyani Selfie


Selain ayunan dan anjungan juga terdapat sebidang papan kayu seluas 3 m2, bisa dengan gaya foto selfie duduk santai memandangi danau menjadi beberapa pilihan wisata selfie di kawasan puncak Wanagiri tersebut. Banyak pengunjung yang datang ke tempat ini hanya untuk menikmati pemandangan indah danau dari ketinggian bukit, sekaligus untuk mendapatkan hasil foto selfi yang indah. Setiap hari selalu banyak pengunjung, tetapi jika pada saat liburan untuk bisa berfoto di tempat ini anda harus siap-siap antre, untuk itulah jika anda ingin lebih leluasa berfoto ria di kawasan wisata Puncak Wanagiri ini datanglah pada hari-hari biasa di luar hari Liburan, karena sementara tempat ini sangat trend dan hits.

Ni Kadek Paranita Della Yahyani - Wamagiri


Sebenarnya ada sejumlah tempat di kawasan puncak Wanagiri untuk foto selfie beberapa tempat setelah anujungan tersebut di atas, ada anjungan lainnya dengan ciri khas tersendiri, mungkin anda perlu melanjukan perjalanan beberapa kilometer lagi di jalur ini untuk bisa menemukan tempat wisata photo selfie lainnya. Nuansa puncak bukit yang sejuk dengan panorama alam bawah danau serta perbukitan di sekitarnya, selalu saja menjadi tempat menarik untuk diabadikan, apalagi ada tempat-tempat kreatif mendesain tempat tersebut menjadi tempat selfie yang sekarang trend dan lagi hits.

Ni Putu Ari Indriyani


Harga Tiket masuk foto selfie di kawasan wisata puncak Wanagiri adalah, untuk anak dan dewasa Rp 10.000/orang, sudah termasuk foto selfie di anjungan dan ayunan, sedangkan untuk photo selfie di bidang papan kayu dikenakan biaya tambahan Rp 5.000/orang. Harga tiket masuk tersebut tergolong murah dibandingkan apa yang bisa anda nikmati dan sensasi yang anda rasakan. Sehingga bisa menjadi pengalaman baru dalam perjalanan wisata anda bersama pasangan tercinta ataupun bersama rekan atau keluarga. Jalan-jalan tour ke kawasan ini anda bisa mengunjungi tempat wisata terdekat lainnya seperti ke danau Buyan, Danau Tamblingan air terjun Banyumala dan air terjun Munduk.

Ni Kadek Paranita Della Cahyani


Untuk menuju ke objek wisata ini dari arah Denpasar, menuju jurusan objek wisata Bedugul, kemudian melanjutkan perjalanan ke arah Singaraja, setelah sampai di puncak bukit kawasan Wanagiri, maka beloklah kiri menuju jurusan desa Gobleg, kalau lurus menuju kota Singaraja dan air terjun Gitgit. Setelah belok kiri ikutilah jalan utama tersebut, beberapa kilometer anda akan bertemu anjungan dan ayunan di dusun Yeh Ketipat, kawasan puncak Wanagiri, Sukasada, Kabupaten Buleleng, lokasinya di sebelah kiri pinggir jalan raya. Jika anda melanjutkan perjalanan lagi maka akan ketemu anjungan lain di kawasan ini, serta sejumlah tempat bersantai untuk foto selfie. (16 April 2017)